Banyak hal yang sering ditanyakan oleh para anggota marching band atau drumband tentang bagaimana cara membuat aransemen sebuah lagu, Sering kali ketika saya melakukan penjurian di berbagai daerah, terutama
untuk Music Analysis Hornline caption, saya terkadang memberikan
masukan dalam memperbaiki aransemen di alat tiup, baik itu horn maupun
pianika. Banyak hal yang sepertinya harus diperbaiki dalam teknik
mengaransi ini, karena yang terjadi di lapangan terkadang membuat saya
‘gregetan’ untuk membetulkannya. Di artikel sebelumnya, saya menjelaskan
mengenai ‘benang merah’ saat pelatih ingin membuat suatu paket
penampilan marching band. Disini akan dijelaskan secara sederhana
bagaimana aransemen yang efektif dan enak didengar.
Teori dasar
• Linear Balance
Saya
memakai panduan yang diberikan oleh Prof. Gary Corcoran, seorang
profesor musik dari Plymouth State University, Amerika, yang mengatakan
bahwa dalam sebuah musik, terdapat 4 bagian utama berdasarkan fungsinya
(Whaley, 2005):
1. Melodic Material (MM)
Ini merupakan bagian yang
memainkan melodi atau materi utama. Termasuk didalamnya dalah
harmonisasi pendukung melodi (MMH) yang mengikuti sepanjang permainan.
Biasanya Trumpet 1 ditemani oleh trumpet 2 dan 3, atau Baritone 1
ditemani Baritone 2, dst.
2. Countermelodic Material (CM)
Merupakan
melodi kontra jalur, yang mana merupakan cerminan berbentuk melodi
namun bergerak berlawanan dengan melodi itu sendiri. Biasanya Mellophone
memegang peranan ini.
3. Rhythmic Harmonic Material (RHM)
Suara
ini merupakan background pembentu ritme dan ciri khas dari musik
tersebut. Biasanya perkusi dan alat musik non melodic/countermelodic
memegang peranan di sektor ini.
4. Sustained Harmonic Material (SHM)
Suara ini adalah lebih kepada nada-nada panjang mengiringi melodi dan pembentuk kord-kord tertentu.
Istilah
diatas sebaiknya diperkenalkan juga kepada pemain, agar nantinya setiap
progresi melodi dan lagu, mereka mengetahui bagian apa yang sedang
mereka mainkan. Efek dinamik, interpretasi dan volume suara akan sangat
membantu apabila mereka mengerti hal-hal ini.
• Teknik Doublings (Penebalan)
Teknik
ini juga disebut teknik penebalan nada, artinya nada yang sama
dimainkan oleh 2 atau lebih alat tiup atau pukul. Berfungsi untuk
menguatkan melodi dan atau harmoni. Doublings biasanya melihat banyaknya
alat, variasi alat dan kemampuan pemain (Bailey, 1994). Tidak ada
gunanya memainkan melodi untuk 40 pemain sekaligus karena akan berdampak
kerasnya melodi tanpa adanya harmonisasi. Teknik ini akan dipakai untuk
aransemen pianika maupun hornline.
Dari gambar disamping bisa
dilihat bahwa suara oboe 1 dan violin 2 sama, sehingga oboe men-dobel
violin 2. Satu hal yang harus diperhatikan dalam teknik doublings ini
adalah, apabila hendak men-dobel suara dari tipe alat yang berbeda,
tuning alat tersebut harus bagus, sehingga output suara menjadi satu.
Sedangkan suara Basson dan Low string berfungsi sebagai SHM, dan violin 1
sebagai harmoni pendukung MM.
• Aransemen Pianika
Sebelum
memulai aransi, ada baiknya melihat dulu kekuatan dan kemampuan pemain
pianika unit anda. Sifat dan karakter alat musik ini adalah homogen,
velositas (kekuatan) suara kecil, dan mudah ditiup/dimainkan oleh
pelajar. Sebagai gambaran ideal jumlah pianika, biasanya terdiri dari
minimal 30-40 pemain. Apabila jumlah yang dipakai, maka aransi yang bisa
dilakukan adalah 2 suara sopran.
1. Sopran 1
Suara sopran 1
biasanya mereka yang memainkan MM. Namun ada baiknya mereka juga mencoba
untuk bermain CM, supaya bisa berbagi dan tidak mendominasi mereka yang
bermain sopran 2.
2. Sopran 2
Mereka yang bermain disini adalah
bagian SHM yang mengiringi melodi, atau bisa juga MM pembentuk
harmonisasi MM. Bisa beralih fungsi dengan sopran 1, menjadi melodi
utama.
3. Pit Percussion
Disini terkadang letak permasalahan.
Sering kali unit yang saya nilai memakai teknik doubling sopran 1 dengan
bells, sepanjang lagu. Ini menyebabkan suara bells terlalu mendominasi
semua lagu, apalagi jika memiliki 6-8 bells, bermain bersamaan. Saran
saya dengan bells yang cukup banyak, jadikanlah mereka sebagai RHM atau
CM agar terdapat variasi melodi dan ritmitik yang indah, seperti
arpeggio, chord, dll. Disarankan juga untuk menyesuaikan volume bells
dengan pianika, agar tidak terlalu memekakkan telinga.
4. Perkusi / Batterie
Perkusi
mempunyai andil besar terhadap tempo dan ritme dalam sebuah lagu.
Sebagian besar fungsinya adalah di RHM. Perlu diperhatikan volume suara
perkusi, agar tidak terlalu dominan saat pianika bermain melodi.
Biasanya sang arranger perkusi akan menyesuaikan pola dan aransemen yang
mendukung melodi tersebut.
Setelah menerapkan pembagian fungsi suara
seperti diatas, usahakan pemain mengerti fungsi masing-masing bagian.
Apabila sopran 1 bertindak sebagai MM, maka volume sopran 2 sebaiknya
tidak menonjol, begitu pun sebaliknya. Disini diharapkan agar
keseimbangan suara dapat terjadi. Dengan diberlakukannya ‘tugas
& tanggung jawab’ dari sang arranger, maka pemain dapat
menjalankan ‘kewajibannya’ memainkan lagu sesuai dengan aransemen,
dengan baik dan benar. Sebagai gambaran, dibawah ini adalah contoh
variasi pembagian fungsi suara untuk kelompok pianika:
Fungsi Suara
Intro
Verse 1
Verse 2
Reff
Bridge
Reff 2 / Modulasi
Coda/Ending
Sopran 1
SHM
MM
CM
MM
SHM
MM
CM
Sopran 2
MMH
SHM
MM
MMH
SHM
MMH
MMH
Pit
MM
RHM
RHM/CM
CM
MM
CM
MM/SHM
Batterie
MMH
-
RHM
RHM
RHM
RHM
SHM
Selamat mencoba…!!
Salam,
Marbo
* Penulis adalah Staff pengajar Binus Business School & Endorser Jupiter Indonesia.
Referensi:
Bailey, Wayne, The Complete Marching Band Resource Manual, University of Pennsylvania Press, 1994
Banoe, Pono, Pengantar Pengetahuan Harmoni, Penerbit Kanisius, 2003
Whaley,
Garwood., The Music Director’s Cookbook: Creative Recipes for a
Successful Program, Meredith Music Publication, 1st ed, USA, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar